Resensi Rindu - Tere Liye


Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tanggal Terbit : Oktober 2014

Jumlah Halaman : 544

Apalah arti memiliki? 
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Apalah arti kehilangan? 
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.

Apalah arti cinta? 
Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupkan jaraknya setipis benang saja.”

Novel ini tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan. 

●●●●●

Rindu menceritakan tentang perjalanan haji jamaah asal Indonesia pada tahun 1930an. Perjalanan dimulai dari daerah timur, Makassar. Dari perjalanan yang menggunakan kapal Blitar Holland tersebut, kapal singgah dibeberapa dermaga. Mulai dari dermaga Surabaya, Batavia (Jakarta), Lampung, Padang, dan terakhir Dermaga Aceh. Diantara penumpang calon jamaah haji yang naik dari mulai dermaga Makassar sampai dermaga aceh, akan diceritkan kisah beberapa tokoh didalam buku ini. Dari beberapa tokoh yang diceritakan tersebut akan muncul lima pertanyaan yang akan terjawab didalam buku ini.

Dibuku ini akan terdapat cerita tentang agama dan menurut saya walaupun masuk dalam buku agama, kita ga akan merasa digurui oleh buku ini. Jadi bagi yang non muslim juga masih bisa membaca buku best seller ini. selain kisah agama, akan ada juga kisah tentang sejarah (karena setting didalam buku ini adalah ketika masa penjajahan Belanda) dan tak lupa juga ada quotes-quotes yang sangat bagus yang dapat dijadikan renungan dari bang Darwis Tere Liye. Bagi yang sudah pernah baca karya Tere Liye pasti tidak asing dengan quotes-quotesnya yang sangat bagus.

“Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dankita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”

Pengalaman selama membaca buku ini kesannya sangat menyenangkan. Bertambah lagi wawasan tentang kehidupan ditahun 30an ketika Indonesia masih dijajah Belanda, kemudian karena baca buku ini jadi tau bagaimana kehidupan disebuah kapal pesiar dan yang paling utama bertambah wawasan tentang agama. Ada beberapa hal yang membuat sedikit rasa jenuh ketika membaca buku ini (hanya sedikit kok gak banyak :D ) yaitu karena ceritanya tentang perjalanan haji menggunakan kapal laut jadi otomatis juga settingnya kebanyakan di kapal (walaupun ada juga setting di luar). Terus jenuhnya diamana? Pada adegan tokohnya yang seputaran kabin-masjid kapal-kantin-dek-kabin-masjid kapal-kantin. Begitulah kira-kira. Tapi hal itu dapat dimaklumi karena ya settingannya tadikan dikapal (kan ga mungkin ada setting didalam laut atau lari-lari diatas laut. Namanya juga bukan cerita fantasi). Penokohan didalam buku ini juga menurut saya pas lah....saya paling suka dengan tokoh Gurutta Ahmad Karaeng yang digambarkan sebagai seorang ulama besar dan bersahaja pada jaman itu. Penokohannya sangat pas (lagi-lagi menurut saya). Rindu disini menurut saya sangat uniersal. Bukan hanya rindu pada sang kekasih yang ditinggal pergi ketanah suci. Tapi rindu disini adalah kerinduan kepasa sang khalik, rindu terhadap rumahNya, ka’bah. Untuk mengetahui lebih lanjut lagi bagaimana cerita buku ini, monggo silahkan dibaca.....


Over all buku ini sangat bagus dan tak salah saya kasih 4,5/5 star
Previous
Next Post »
Thanks for your comment

SUBSCRIBE TO OUR NEWSLETTER